Dalam kehidupan saat ini, di mana semuanya terasa berjalan begitu cepat membuat sebagian besar orang mudah merasakan diri dalam tekanan, rentang stres yang pendek, emosi yang mudah ‘meledak’. Dalam jangka panjang kondisi ini akan mempengaruhi fungsi organ dan kondisi fisik tubuh. Tak jarang banyak orang saat ini mudah merasa kurang sehat secara psikis, emosi dan perasaan tidak nyaman, meskipun teknologi medis berkembang begitu pesatnya.

Ini terjadi karena fokus penyembuhan sebagian besar hanya ditujukan untuk mengatasi masalah atau penyakit fisik. Ini dikarenakan sekitar abad ke tujuh, Rene Descartes, seorang ahli matematika dan filsuf mengeluarkan postulat bahwa pikiran dan tubuh adalah hal yang terpisah. Ini menyebabkan perkembangan pengetahuan berfokus pada tubuh manusia. Namun dalam perkembangan selanjutnya, terutama sejak sekitar tahun 1960 di mana dunia pengetahuan barat kembali melirik kemungkinan bahwa masalah tubuh sangat terkait dengan kondisi pikiran. Ini menyebabkan mulai marak kembali riset-riset hubungan pikiran dan tubuh, hingga saat ini.

Salah satunya adalah riset yang dilakukan neuroscientist DR. Candace Pert, seorang yang dalam risetnya kemudian menemukan bahwa pemikiran dan emosi yang dirasakan seseorang pasti dirasakan juga di tubuh fisiknya. Ini terjadi karena saat mengalami emosi tertentu akan mendorong reaksi kimiawi di otak yang kemudian akan tersebar ke tubuh. Reaksi kimiawi ini selain di tingkat organ, terjadi hingga di tingkatan sel tubuh (Lipton, 2005).

Berikut ini sebuah contoh untuk memudahkan Anda memahami apa yang dimaksud oleh Pert dan Lipton Misalnya, Budi sedang menyetir mobil dengan santai dan tiba-tiba ada mobil lain memotong jalan di depannya dengan jarak yang sangat mepet, sehngga kemudian Budi kaget. Reaksi tubuh Budi selain kaget, adalah detak jantungnya meningkat, otot-otot tubuhnya menjadi tegang, penglihatan menjadi lebih awas. Reaksi ini terjadi karena tubuh Budi melepas hormon adrenalin dalam rangka menyiapkan diri untuk bertindak. Saat kejadian tersebut selesai tanpa masalah yang berarti, maka jumlah adrenalin akan berkurang, saat adrenalin berkurang maka kortisol akan meningkat sehingga menjadikan tubuh Budi menjadi sedikit lemas dan tubuh membutuhkan istirahat.

Lonjakan adrenalin dalam tubuh bila berlangsung sebentar memiliki pengaruh yang baik bagi kita. Misalnya saja anak yang tiba-tiba berlari kencang dan sanggup melompati tembok yang tinggi saat dikejar anjing galak, karena ketakutan pada anjing tersebut memicu tubuh melepas adrenalin untuk bertindak cekatan. Namun, jika adrenalin dalam jumlah banyak terjadi terus menerus dilepaskan dalam tubuh, maka kortisol dalam darah juga akan ikut meningkat, dan kenaikan jumlah kortisol ini berlangsung secara bertahap dan membutuhkan waktu yang lama untuk kembali ke level normal. Semakin tinggi kortisol dalam darah, maka waktu yang dibutuhkan adrenalin, yang sebelumnya melonjak, membutuhkan waktu yang lebih lama juga untuk ke level normal. Apabila kondisi ini berlangsung dalam waktu lama, maka efek ke tubuh adalah level gula darah, koleseterol, dan trigeliserida meningkat, yang bisa menyebabkan terjadinya peningkatan berat badan, kekebalan tubuh menurun, kelelahan, kemarahan, agresi, masalah tidur, sistem pencernaan, sistem reproduksi terganggu, menimbulkan sakit pada fisik, energi tubuh terasa lemah, sulit konsentrasi, dapat menimbulkan perasan cemas, gagal, dan depresi. Kondisi ini kemudian akan menyebabkan tubuh mudah terserang penyakit

Dalam buku The Miracle of MindBody Medicine, DR Adi W. Gunawan, CCH. menjelaskan bagaimana kaitan stres dan sistem kekebalan tubuh, stres dan kanker, stres dan alergi, sakit kulit, depresi, dan kanker. Kondisi emosi dan pikiran seseorang ternyata sangat mempengaruhi kesehatan fisiknya. Karena itu diperlukan upaya untuk mengelola emosi dan pikiran agar berada dalam kondisi yang tepat sehingga kesehatan fisik pun tetap terjaga.

Ada banyak cara untuk menjaga kondisi pikiran kita. Salah satunya adalah dengan melakukan relaksasi secara rutin. Relaksasi dalam psikologi adalah keadaan makhluk hidup dengan ketegangan emosional yang rendah, di mana tidak adanya emosi seperti kemarahan, kecemasan, atau ketakutan. Menurut kamus Oxford; relaksasi adalah ketika tubuh dan pikiran bebas dari ketegangan dan kecemasan.

Teknik relaksasi secara garis besar terbagi atas fisikal, mental, dan terapeutik. Teknik pernapasan adalah sebuah cara mudah untuk melakukan relaksasi fisik, selain itu relaksasi otot progresif juga merupakan sebuah teknik relaksasi yang cukup dikenal hingga saat ini.

Contoh relaksasi mental adalah meditasi, kegiatan yang sangat populer dipraktikkan di Asia. Dalam berbagai riset ditemukan bahwa meditasi memberi banyak manfaat pada kesehatan mental dan juga fisik. Hipnosis juga merupakan relaksasi mental yang saat ini berkembang dengan pesat dan digunakan banyak tenaga profesional perawatan kesehatan. Ketika dilakukan dengan benar, hipnosis bisa membuat seseorang masuk ke dalam keadaan relaksasi yang mendalam. Ketika berada pada kondisi hipnosis yang dalam ini, subyek sangat reseptif terhadap saran atau sugesti yang disampaikan oleh orang yang membimbingnya masuk kondisi hipnosis. Subyek yang dihipnosis masuk kondisi kedalaman yang dalam, bila ditangani menggunakan teknik yang tepat tidak hanya bebas stres pada saat itu saja tetapi juga ketika individu keluar dari kondisi hipnosis. Mereka akan lebih kuat terhadap efek stres seperti yang disugestikan oleh orang yang melakukan hipnosis pada mereka. Selain hipnosis untuk relaksasi, hipnosis dalam bentuk terapi sering digunakan untuk mengobati berbagai kondisi lainnya terkait masalah emosi dan pikiran. Ini yang disebut sebagai relaksasi yang bersifat terapeutik.

Salah satu relaksasi yang cukup dikenal adalah“Relaxation Response” (Respon Relaksasi) yang pertama kali diperkenalkan oleh Dr. Herbert Benson, MD, profesor, penulis, ahli jantung, dan pendiri Harvard Mind/Body Medical Institute. Respons didefinisikan sebagai kemampuan pribadi seseorang untuk mememicu tubuh melepaskan zat kimia dan sinyal otak yang membuat kerja otot dan organ Anda melambat dan meningkatkan aliran darah ke otak. Benson (1975) menjelaskan bahwa Respon Relaksasi yang dilakukan secara rutin dapat menjadi pengobatan yang efektif untuk berbagai gangguan terkait stres.

Respon Relaksasi pada dasarnya adalah reaksi yang berlawanan dengan fight or flight response (pada era selanjutny Spiegel menyatakan adanya freeze response, selain fight or flight response). Menurut Benson, Respon Relaksasi membuat kondisi tubuh lebih baik karena dalam prosesnya Respon Relaksasi memnghasilkan efek tubuh yang melawan efek fisiologis ketika seseorang stres atau mengalami fight or flight response.

Respon stres dalam bentuk fight, flight, atau freeze terjadi secara alami ketika kita merasa sedang berada di bawah tekanan yang berlebihan, dan respons tersebut sebenarnya dirancang untuk melindungi kita dari kondisi yang membahayakan. Sistem saraf simpatik kita segera terlibat dalam menciptakan sejumlah perubahan fisiologis, diantaranya adalah peningkatan metabolisme, penyempitan pembuluh darah, peningkatan tekanan darah, jantung, dan laju pernapasan, pelebaran pupil, serta menyesuaikan semua kondisi tubuh yang berfungsi untuk memungkinkan kita melepaskan diri dari stres atau situasi berbahaya.

Individu yang mengalami respons fight, flight, or freeze sering kali menyatakan adanya perubahan fisiologis yang tidak nyaman seperti ketegangan otot, sakit kepala, sakit perut, detak jantung yang kencang, dan napas pendek seperti tersengal-sengal. Apabila seseorang sering mengalami respon fight, flight, or freeze maka akan muncul kemudian efek tidak baik yang akan merugikannya. Ketika kadar hormon stres dalam jumlah besar sering dihasilkan dalam tubuh, maka hormon-hormon ini dapat berkontribusi pada sejumlah kondisi medis yang terkait dengan stres seperti penyakit kardiovaskular, kelelahan adrenal, dan yang lainnya.

Respon Relaksasi adalah cara yang bermanfaat untuk mengembalikan tubuh ke tingkat sebelum stres terjadi. Benson menjelaskan Respon Relaksasi sebagai keadaan relaksasi fisik yang mendalam dengan melibatkan bagian lain dari sistem saraf kita — sistem saraf parasimpatis. Penelitian telah menunjukkan bahwa mempraktikkan Respon Relaksasi secara rutin dapat membantu mengatasi banyak masalah kesehatan yang disebabkan atau diperparah oleh stres kronis seperti fibromyalgia, penyakit gastrointestinal, insomnia, hipertensi, gangguan kecemasan, dan lain-lain.

Respon Relaksasi bisa dapatkan denagan mempraktikkan berbagai metode, termasuk diantaranya visualisasi, relaksasi otot progresif, penyembuhan energi, akupunktur, pijat, teknik pernapasan, doa, meditasi, tai chi, qi gong, dan yoga. Relaksasi sejati juga dapat dicapai dengan menyingkirkan diri dari pikiran sehari-hari dan dengan memilih kata, suara, frasa, doa, atau dengan berfokus pada pernapasan Anda.

Menurut Benson, salah satu hal paling berharga yang dapat kita lakukan dalam hidup adalah belajar relaksasi secara mendalam – berusaha meluangkan waktu setiap hari menenangkan pikiran kita untuk menciptakan kedamaian batin dan kesehatan yang lebih baik. Ini juga memberi dampak dalam proses penyembuhan yang sedang dijalani seseorang. Saat seorang subyek mampu melakukan relaksasi secara rutin, dengan kondisi relaksasi yang dalam maka proses penyembuhan juga akan berjalan dengan lebih mudah.

Mereka yang rutin mempraktikkan relaksasi antara 15-20 menit per hari mendapatkan banyak sekali manfaat, antara lain meningkatkan daya tahan/sistem kekebalan tubuh, meningkatkan energi tubuh, meningkatkan ambang batas stres, mengurangi stres, lebih siap menghadapi stres yang tak terduga, menstabilkan tekanan darah, meningkatkan asupan oksigen, mengurangi ketegangan pada otot, mengurangi kelelahan, memperbaiki kualitas tidur, serta meningkatkan konsentrasi dan daya ingat, menyembuhkan diri sendiri, dan mencapai kesehatan yang lebih baik.