Terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya untuk para psikolog, psikiater, dokter, dan tenaga medis lainnya yang belakangan ini semakin terbuka pada keberadaan hipnoterapi, mengingat pada awal-awalnya hipnoterapi cukup ditentang keberadaannya terlebih dengan informasi tentang hipnoterapi yang tidak tepat. Selain itu cukup banyak juga hipnoterapis yang memposisikan diri melebihi kapasitasnya sehingga menimbulkan pandangan miring dari para profesional di bidang medis ini kepada praktik hipnoterapi.
Namun belakangan ini saya merasa para tenaga medis sangat terbuka dan bisa bekerja sama dengan hipnoterapis, sehingga kami baik secara pribadi maupun bersama-sama komunitas alumni Adi W. Gunawan Institute of Mind Technology, #SayaAWGI, tetap teguh menyuarakan bahwa hipnoterapi merupakan terapi yang bersifat komplementer, artinya bahwa hipnoterapi ini bukan menggantikan peran psikolog, psikiater, dokter, dan tenaga medis lainnya, melainkan hipnoterapi ini melengkapi dan harus sejalan dengan tindakan medis yang sedang dijalani seseorang.
Seorang hipnoterapis atau praktisi hipnosis harus mampu memposisikan dirinya dengan benar dan tepat. Bila kliennya memerlukan tindakan medis, maka seyogyanya klien disarankan berkonsultasi dengan tenaga medis yang tepat, bila klien sedang dalam perawatan medis, misalnya klien masih sedang mengkonsumsi obat yang diresepkan, maka sudah seharusnya hipnoterapis bisa mendiskusikan dengan tenaga medis sehingga terapi yang dilakukan sejalan dengan pengobatan yang sedang berlangsung.
Seorang hipnoterapis tidak dibenarkan meminta klien menghentikan pengobatan medis yang sedang dalam pengawasan dokter yang sedang dijalani kliennya karena memang hipnoterapis tidak memiliki hak untuk itu. Selain itu hipnoterapis dalam praktiknya juga tidak boleh memberikan resep obat, karena memang tidak berhak untuk itu. Wewenang ini -meminta kliennya berhenti minum obat atau memberikan resep obat- yang dilakukan oleh satu dua hipnoterapis sehingga akhirnya muncul pandangan minor terhadap hipnoterapi.
Hipnoterapi memang luar biasa bermanfaat, namun demikian tetaplah merupakan sebuah alat yang harus digunakan dengan cara yang benar dan tepat sehingga berfungsi maksimal. Hipnoterapi tentu tidak bisa membuat tulang patah terbuka untuk tersambung kembali, dokter bedah yang melakukan itu. Sebaliknya tidak ada obat minum yang bisa menyembuhkan ketakutan seseorang pada cicak, namun hipnoterapi bisa membantu mengatasinya.
Saat klien menjalani pengobatan medis dengan perasaan yang nayaman dan optimis atas kesembuhannya tentu saja proses pengobatan akan semakin berjalan efektif. Dokter membantu maksimal sesuai kecakapannya di bidang medis sedangkan hipnoterapis membantu membuat kliennya mau menjalankan pengobatan dengan kenyamanan dan optimis, ini adalah bentuk terapi komplementer yang diharapkan terjadi.
Komplementer adalah saling melengkapi, contoh sederhananya pensil dan penghapus, dimana pensil akan maksimal bila ditemani penghapus, bila pensil dengan pulpen maka ini disebut dengan substitusi yang fungsinya saling menggantikan. Jadi sekali lagi, semoga para hipnoterapis bisa menyadari dan mengambil porsi yang tepat bahwa praktik hipnoterapi yang dilakukan adalah bersifat komplementer.
Terlepas bahwa tenaga medis sudah berusaha maksimal, hipnoterapis juga berusaha maksimal, saat klien juga berusaha dengan maksimal, maka klien sudah berproses menuju kesembuhannya sendiri dan perlu kita sadari faktor Tuhan merupakan penentu paling akhir, agar kita tidak menjadi takabur atas kesembuhan atau penyelesaian masalah yang dicapai seseorang.